Sabtu, 11 Februari 2017

HULU DAYEUH

HULU DAYEUH
Secara Harpiah Hulu adalah kepala/dayeuh yang berarti Tempat. Tiap pedesaan sekarang yang dibentuk atau ada sejak abad 8 s/d akhir abad 16 M biasanyamemiliki tempat yang disebut Hulu Dayeuh. Konon setiap tokoh yang dipercaya atau dekat dengan kerajaan jika hendak mendirikan suatu kampung/tempat harus mencari tempat berdasarkan wangsid/firasat-firasat tertentu. Kelak tempat tersebut dinamakan Hulu Dayeuh. Hulu Dayeuh ditentukan oleh orang pertama hati mendiami suatu tempat untuk tujuan mendirikan perkampungan.

Dukuh/Desa Sekarang
Pembentukan Desa/perkampungan dengan ciri Hulu Dayeuh umumnya ada di Jawa Barat, tidak terkecuali di Majalengka. Hampir semua desa memiliki tempat yang diberi nama Hulu Dayeuh. Meskipun tempat tersebut merupakan bangunan biasa, atau bahkan tidak ada bangunan sama sekali. Namun, Hulu Dayeuh sampai saat ini masih dikeramatkan, atau setidaknya masih diakui.
Hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saat orang hendak Hajatan seperti khitanan anak. Sebelum dikhitan anak yang mau dikhitan biasanya dibawa atau helar naik kuda ke hulu Dayeuh. Meski tidak jelas fungsi Hulu Dayeuh, namun dapat dipahami bahwa Hulu Dayeuh merupakan tempat cikal bakal suatu kampung (sekarang Desa) didirikan. Kalau dihubungkan bahwa kenyataan Desa yang didirikan abad ke- 8 s/d ke-16 M yang memiliki Hulu Dayeuh. Sementara pada abad tersebut berdiri kejayaan Galuh-Pajajaran abad ke-8 dan berakhir tahun 1576 M. Maka dapat dikatakan bahwa desa-desa yang memiliki Hulu Dayeuh merupakan desa/kampung yang pada saat itu tunduk pada kerajaan Galuh-Pajajaran.
Peninggalan prasasti Hulu Dayeuh yang ada berikut peninggalan terdapat di Bobos, Kecamatan Sumber. Situs Hulu Dayeuh ini berada di 15 km barat daya Kota Cirebon atau ± 7 km sebelah utara Situs Kawali Kabupaten Ciamis.
Kemunculan Situs ini tertuang dalam surat nomor 15/6/i02.10/J-1991 tgl 27 Juli 1991 tentang penemuan benda purbakala. Dalam prasasti tersebut terdapat tulisan berjumlah 11 baris, diduga prasasti tersebut sezaman dengan Kayuwangi-Balitung abad IX – X M. isi prasasti tersebut menggunakan tulisan/huruf Pasca Pallawa berbahasa Sunda Kuno.

Terjemahannya: “Prasasti ini dibuat atas perintah Sri Maharaja Haji di Pakuan Sya nan Ratu Dewata sebagai tanda peringatan atas pekerjaan-pekerjaan yang telah dilaksanakan untuk kepentingan rakyat”. Banyak tulisan yang terpotong pada prasasti tersebut.

Sedangkan Hulu Dayeuh di Desa Mirat Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majalengka  memiliki sejarah sebagai berikut.
1. Hulu Dayeuh di Desa Mirat pertama kali berada di kampung Cirabak berupa sebuah batu berbentuk oval.  Sebab pindahnya hulu dayeuh dikarenakan perpindahan pusat pemerintahan Desa mirat yang tadinya di kampung Cirabak yang lebih jelasnya di Dusun Pasirendah RT 004 |RW 008 ke Kampung Tarikolot komplek pemakan umun yang dikenal dengan sebutan Makam Gede.
2. Kemudian Hulu Dayeuh dipindah lagi yang kedua kalinya yaitu ke Blok minggu/Dusun Mekar Saluyu RT005 RW007 tepatnya disebelah timur Kantor Pemerintahan Desa Mirat sekarang. Perpindahan yang Kedua terjadi masa Pemerintahan Bapak Kuwu Saleh ( Kuwu Ningrum ) namun biasa masyarakat pada umumnya memanggil dengan sebutan Bapak Kuwu Ningrum. Sampai saat ini Keturtunan dari Bapak Kuwu Ningrum masih ada yang eksis di Desa  menjabat sebagai Kaur Umum diangkat pada masa Kepemimpinan Bapak Kuwu Sunarta.
Masa pemerintahan Kuwu Ningrum dimulai tahun 1952 s/d tahun 1972. Pada masa pemerintahannya menjadi atas tujuh blok yaitu blok Senen, Blok Selasa, Blok Rebo, Blok Kemis, Blok Jum’at, Blok Sabtu dan Blo Minggu.
Blok Jum’at yang dikenal dengan sebutang Kampung Tarikolot. Blok Sabtu meliputi Kampung Mencut dan Janawi. Blok Minggu meliputi Blok Desa dan Batu Nunggul (BTN). Blok Senen meliputi Kampung Widara. Kampug Peuntas dan Kampung Cirabak. Sedangkan Blok Salasa meliputi Kampung Jebor dan Kongsi. Blok Rebo meliputi  meliputi Pondok Panjang Kampung Istal, Dukuh peundeuy. Blok Kemis meliputi Kampung Sukamenak dan Kampung Cirembun
Paa tahun 1982 Suka menak dipecah menjadi dua Desa Mirat dan Desa Parungjaya. Blok yang masuk wilayah Desa Parungjaya yaitu ; Blok Salasa. Blok Rebo dan Blok Kemis. Ynga termasuk Desa Mirat Blok Minggu. Blok Senen, Blok Sabtu dan Blok Jum’at.
Pada masa transisi desa Parungjaya dijabat oleh Bapak Ahmad (Emod). Sedangkan Desa Mirat dijabat oleh kuwu definitif yaitu Bapak M. Jaelani Yusuf. Desa Mirat pada masa itu dari ujung selatan/ kampung Tarikolot sampai ujung Utara/ Kampung Jebor ujung timur/ Kampung Cirabak, ujung Barat / Kampung Pajaagan Barat rata-rata berbahasa sunda. Namun ada yang unik penduduknya, ada yang menggunakan bahasa sehari-harinnya menggunakan bahasa jawa Cirebon yaitu kampung Jebor.
Desa Mirat sekarang sebelah utara berbatasan dengan desa Parungjaya, sebelah timur berbatasab denga gunung Sanghyangdora (Perum Perhutani), Sebelah selatan beerbatasan dengan desa Leuwikujang. Sedangkan sebelah barat berbatasan lansung dengan desa Leuwimunding. Penduduk desa Mirat 5.982 jiwa. Penduduk Desa Mirat bermata pencaharian tani, buruh tani, buruh pabrik , dagang, wiraswasta dan hanya sedikit sekali sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Sampai saat ini Hulu Dayeuh masih dijadikan tempat untuk berbagai macam Kegiatan diantaranya kegiatan Munjung, hajatan khususnya Khitanan.
Ada cerita menarik dari perpindahan Hulu Dayeuh. Pada saat perpindahan dari Kampung Tarikolot ke Blok Minggu (Hulu Dayeuh sekarang), terjadi peristiwa Jembatan Tarikolot ambruk. Ambruknya jembatan mengakibatkan jalan penghubung Kampung Tarikolot dengan Blok Sabtu terputus. Meski demikian tidak ada korban jiwa dari kejadian tersebut. Ambruknya jembatan salah satunya disebabkan konstruksi jembatan yang masih sederhana sedangkan air yang mengalir sering terjadi banjir. Banjir memang sudah jadi langganan Sungai Ciwaringin saat musim hujan.
Jembatan ambruk memang bukan hanya terjadi di Mirat tetapi juga terjadi di desa tetangga  Desa Leuwikujang, Rajawangi maupun Mindi. Desa yang dilalui alur Sungai Ciwaringin terutama orang tua dahulu mungkin merasakan pahit getirnya membangun jembatan. Masyarakat dahulu membangun jembatan secara swadaya sebelum dibangun secara permanen oleh pemerintah.
Terus menuju Kantor Kepala Desa Mirat Untuk menuju Hulu Dayeuh dari terminal  Rajagaluh lebih kurang 5 Km turun di depan Kantor Polsek Leuwimunding terus menuju Kantor Pemerintahan Desa Mirat, atau bisa dari arah Utara dari Cirebon terus menuju Rajagaluh terus turun  di depan Markas Polsek Leuwimunding terus menuju Kantor Kepala Desa Mirat. Letak Hulu Dayeuh lebih tepatnya di Dusun Mekar Saluyu
/Blok Minggu RT 005 RW 007 pas dibelakang rumah Sdr Wanta.

Di Hulu Dayeh juga biasa masyarakat setempat melaksanakan Haol taahuaan yaitu dengan melaksanakan Tahlilan bersama. Didalam Haolan tersebut dihadiri pula oleh Kepala Desa, Pamong Desa, Tetua setempat dengan bersama-sama memohon/memanjatkan doa kepada Allah SWT keselamatan dunia akhirat, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat Desa Mirat.
Pada acara Haolan juga masyarakat dengan sukarela membawa nasi lengkap dengan lauk pauknya yang biasa menyebutnya paros atau berekat. Masyarakat rata-rata membawa 5 paros, lain halnya dengan Kuwu biasanya membawa 20 s/d 30 paros sedangkan pamong Desa biasa membawa hanya 5 – 10 paros saja. Haolan di Huylu Dayeuh Desa Mirat kini masih terpelihara dengan baik.

Kamis, 27 Oktober 2016

KERJA BARENG PEMBUATAN SKP

Sehari setelah pelatihan pengisin SKP online bagi PNS sekecamatan Leuwimunding, para Sekdes PNS langsung menindak lanjuti pembuatan SKP. Bertempat di Balai Desa Parakan 7 orang sekdes langsung ngebut menyelesaikan SKP tahun 2015. Pada hari itu juga draf SKP akan langsung di ajukan kepada atasan langsung/ pejabat penilai sekdes untuk mendapat persetujuan.
SKP yang diajukan berisi tugas pokok sekdes berdasarkan Perda Kabupaten Majalengka Nomor 14 Tahun 2006. Sekurang tujuh item Sasaran Kerja Tahun 2015 diajukan untuk mendapat persetujuan  TARSA, S,IP (Kasipem & Yanum Kec. Leuwimunding).
Ayat Firman Hidayat, SE (Pjs. Desa Parakan), yang memfasilitasi pelaksanaan gawe bareng SKP, langsung menyerahkan hasil print out SKP yang telah dibuat. Dengan diserahkannya SKP tersebut diharapkan masih cukup waktu apabila SKP perlu dirubah.
Sekdes Kecamatan Leuwimunding yang telah membuat SKP tahun 2015 yaitu :
1. DIDING ABIDIN (Sekdes Leuwimunding)
2. ARTA SUGIARTO (Sekdes Mirat)
3. SAEPUDIN (Sekdes Rajawangi}
4. EDI SUHAEDI (Sekdes Patuanan)
5. AYAT FIRMAN HIDAYAT (Sekdes Parakan)
6. SADE  (Sekdes Leuwikujang)
7. SATONI ( Sekdes Mindi)

Senin, 08 Agustus 2016

POS YANDU MELATI PUTIH RUTIN TIMBANG BALITA



Pos Yandu di Desa Mirat yang aktif ada 6 Pos Yandu. Diantaranya Pos Yandu Melati Putih.Tiap Sebulan Sekali ibu-ibu Kader melaksanakan tugasnya menimbang anak-anak balita.
Anak-anak yang ditimabng berdasarkan data base berjumlah 113 anak,52 anak laki-laki 61 anak-anak perempuan. Kegiatan Penimbangan dilaksanakan oleh Ade Siti Utari, Deti Kurnia, Yani dan dimotori oleh Eri Purianingsih sebagai Bidan Desa Mirat,
Dengan anak-anak ditimbang dan ibu-ibu hamil diperiksa di Pos Yandu mudah-mudahan gejala penyakit akan mudah terdeteksi

Rabu, 03 Agustus 2016

CADAS GANTUNG MIRAT

Cadas Gantung kini salah satu destinasi wisata di Wilayah Timur Majalengka.Tidak Jauh dari Tira Indah.Tidak bersusah payah untuk menuju Cadas Gantung Desa Mirat.Dari Tirta Indah menuju Terminal Rajagaluh belok Kanan  tidak lebih dari 5 km anda akan menemukan Kantor POLSEK leuwimunding . Dari Polsek anda tinggal menuju ke arah Timur bisa mengunakan Kendaraan Roda Dua maupun Roda empat bahkan bisa dengan berjalan kaki.

Setelah anda sampai di tempat tujun, anda akan disuguhkan pemandangan yang mempesona. Udara masih bersih , sejuk,segar. Tidak bersusah payah untuk mencapai puncak Cadas Gantung. Dari atas Cadas Gantung anda akan melihat pemandangan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Majalengka.

Tidak perlu mendaki puncak Gunung Ciremai untuk melihat indahnya  pemandangan dari atas. Cukup dengan berkunjung dan mendaki Cadas Gantung, hasrat untuk melihat pemandangan dari atas akan terpuaskan. Dengan sedikit upaya dan
tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam cukup mengeluarkan uang kecil.


Senin, 01 Agustus 2016

MUHAMMAD ABIMANYU DRUPADA ARAFAH MANJING TK TUNAS MEKAR




Meski belum genap usia 5 tahun  M.Abimanyu Drupada Arafah sudah bersemangat ingin sekolah. Diusia yang baru menginjak 4 tahun 7 bulan tepatnya lahir di Majalengka, tanggal 30 Januari 2012 .
                Memasuki hari pertamanya bersekolah di TK Tunas Mekar  Desa Mirat,M.Abimanyu Drupada Arafah anak ke 3 dari Arta Sugiarto dan Ade Siti Utari  tidak canggung. Meskipun teman-temannya banyak yang diatas usianya tampak dapat menyesuaikan diri.
                Dicelah waktu senggang terutama saat bermain. Sering muncul sifat asli anaknya. Kadang kenakalannya menjadi hal menggemaskan bagi orang tuanya malah orang tua lain yang melihatnya.
                Anak nakal  hal biasa. Berebut mainan ,saling berkelahi, hingga menangis. Kadang membuat orang tua marah, sesaat kemudian tertawa melihat tingkah polos dan lucunya.
                Tidak ingin larut dengan kelucuan si kecil selaku orang tua penting untuk mempersiapkan agar anaknya menjadi orang yang pintar mandiri dan soleh. Pada saatnya dewasa nanti semua orang tua menginnginkan anaknya sukses dalam segala hal. Sebagai langak awal penting memasukan si bungsu ke Sekolah TK Tunas Mekar. TK yang sudah meluluskan putar putrid yang kini sudah duduk di SD.
             
   Meski belum terbilang lama , TK Tunas Mekar sarat dengan Prestasi yang pasti anak yang sekolah di TK Tunas Mekar tidak lagi canggung untuk melanjutkan Ke Sekolah Dasar.
                Bagi orang tua yang mempunyai anak Sekolah sangat bijak memasukan anaknya ke TK sebelum masuk SD. TK Tunas Mekar dapat dijadikan pilihan bagi warga Desa Mirat dan sekitarnya. Selain tidak jauh P{restasinya tidak kalah dengan TK lain. Kalau ada yang dekat buat apa cari yang jauh.

Jumat, 22 Juli 2016

GELAR APELDI KEC.LEUWIMUNDING



GELAR  APEL  SORE DI KECAMATAN LEUWIMUNDING

Ade Saefudin,S.Sos  Camat Leuwimunding semenjak kepemimpinannya mulai berbenah meningkagtkan disiplin.
Salah satunya menginstruksikan melaksanakan apel sere.Dilaksanakan setiap pukul 14,45 wib,setiap hari kerja.ada[un Pembina apel dilakukan secara bergilir oleh para Kasi.
Dengan dilaksanakan apel sore banyak manpaat yang dirasakan diantaranya :
1.Para Kasi dapat menginformasikan kegiatan/program yang harus dilaksanakan segera.
2 Dapat mengevaluasi disiplin aparatur kecamatan.
3. Dapat meningkatkan rasa kebersamaan.
4. Meningkatkan rasa kekeluargaan.
Dengan rutin melaksanakan apel sore kecamatan Leuwimunding akan dapat meningkatkan kinerja dan menjadi Kecamatan terbaik di Kabupaten Majalengka.  Sesuai moto Kecamatan Leuwimunding  Terbang ( Terbaik dan Membanggakan )

Minggu, 03 Januari 2016

LONGSOR ANCAM JEMBATAN PEUNTAS



LONGSOR  ANCAM JEMBATAN PEUNTAS
Bantaran Sungai Ciwaringin Bagian Hilir Jembatan Peuntas Desa Mirat Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majalengka ,Minggu 3/1 Longsor.  Kejadian diakibatkan Hujan yang mengguyur lebat selama dua hari sejak sabtu sore . Tak dapat dihindari Sungai  ciwaringinpun banjir. Dan mengakibatkan longsor disekitar Jembatan.
Khawatir Kejadian tersebut akan mengancam KepalaJembatan. Warga berinisiatif kerja bhakti menanggulani dampak longsor . Puluhan warga bahu membahu membuat kerucuk bambu dan mengurug dengan tanah urugan dan sirtu. Sesaat warga dapat bernapas lega. Longsor yang terjadi sementara dapat diatasi. Namun tetap saja kekhawatiran membayangi pikiran warga. Jika tidak ditangani serius jembatan yang satu-satunya penghubung peuntas blok minggu akan terisolir.
Akibat kejadian tersebut warga mengaharapkan pembangunan tambak limpas dan senderan dapat direalisasi tahun
Mantan Kepala  Desa SUNARTA ( 58 tahun ) dan Mantan Pejabat Kepala Desa Mirat DULSALEH ( 75 Tahun )  Abah SARIM Tokoh Masyarakat ( 59 Tahun ) disela – sela Kerja Bakhti menyampaikan harapannya . Kiranya tahun 2016 ini Pemerintah Desa Mirat dapat mengalokasikan Bangunan Pengaman Jembatan melalui Dana Desa. Apabila tidak dibangun segera dihawatirkan Jembatan ambruk diterjang banjir.